Selasa, 09 Desember 2014

Tauhidul Asma Wash shifat

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

6 Keutamaan Tauhidul Asma Wash shifat



Tak kenal maka tak sayang! Tak kenal maka tak cinta!

Tak mengenal Allah, bagaimana bisa cinta kepada-Nya?

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah,

فكلما كان العلم به أتم كانت محبته أكمل

“Semakin seseorang mengenal Allah ,maka kecintaannya terhadap-Nya semakin sempurna”.
Mengenal Allah dengan belajar Tauhidul Asma` wash Shifat

Sebagaimana telah dijelaskan pada tulisan berjudul “Wahai paranormal, apakah Anda telah mengesakan Allah?” tentang definisi tauhidul asma` wash shifat, maka berikut penjelasan singkat mengenai keutamaan tauhidul asma` wash shifat, yaitu:
Sebagai tujuan penciptaan makhluk. Tujuan penciptaan makhluk ada dua, yaitu:
Ma’rifatullah, agar kita mengenal siapa Rabb kita melalui nama dan sifat-Nya. Allah ta’ala berfirman :

{اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا}

”Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”.(QS.Ath-Thalaaq: 12).
‘Ibadatullah, agar kita bisa beribadah hanya kepada-Nya saja dengan benar.Allah ta’ala berfirman,

{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ}

”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.(QS.Adz-Dzaariyaat : 56).
Rukun Iman yang pertama dan pokok dari seluruh rukun-rukun Iman yang lain. Allah ta’ala berfirman :

{لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ }

”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, Kitab-Kitab, dan Nabi-Nabi”. (QS.Al-Baqarah : 177).
Paling agung, paling utama, dan paling banyak disebut dalam Al-Qur`an. Buktinya hampir setiap ayat Al-Qur`an ditutup dengan penyebutan nama atau sifat Allah.Sebagaimana dinyatakan oleh Penulis Sittu Duror, hal. 34.
Sebagai asas perbaikan hati dan badan karena kedudukannya membangun pengetahuan tentang Allah dan tauhid dalam Islam seperti kedudukan memperbaiki hati di dalam jasad dikarenakan ma’rifatullah dan tauhid itu letaknya dalam hati, dan memperbaiki serta menyempurnakan keimanan dalam hati. Allah ta’ala berfirman :

{أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ}(24)

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,

{تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ}(25)

pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS.Ibrahim : 24-25).
Sebagai pokok dari seluruh ilmu yang bermanfaat karena seluruh ilmu itu dasarnya adalah ma’rifatullah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah.
Sebagai penarik dan pengokoh Arkanu’Ibadah Al-Qolbiyyah (rukun-rukun ibadah hati); mahabbah (cinta); khauf (takut); dan raja` (harapan).

Semoga Allah memudahkan kita mengenal tentang diri-Nya dan menjadikan kita semakin dekat dengan-Nya ,sehingga kelak bisa berjumpa dengan-Nya dan melihat wajah-Nya, amin.[Diolah dari kitab Fiqhul Asma`il Husna, Syaikh Prof. Dr. Abdur Razzaq Al-Badr hafidzhahullah dan kitab Sittu Duror, Syaikh Ramadhani hafidzhahullah]



Penulis: Ust. Sa’id Abu ‘Ukkasyah

Minggu, 30 November 2014

Keseimbangan Spiritualitas Muslim

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Khauf dan Raja’: Keseimbangan Spiritualitas Muslim
Oleh: DR. Saifudin Zuhri, M.Ag.

Terdapat 2 (dua) hal dalam sisi spiritualitas seorang Muslim yang harus seimbang. Kedua hal tersebut adalah: Pertama, ketakutan dan kekhawatiran atas siksa dan azab Allah akibat perbuatan dosanya. Dalam istilah agama kondisi ini disebut Khauf (rasa takut). Kedua, pengharapannya atas kemurahan, pengampunan dan kasih sayang Allah. Kondisi ini disebut dengan istilah Raja’.

Konsep Khauf dan Raja’ dalam dunia spiritualitas (tasawuf) dianggap sebagai salah satu haal (kondisi) yang mesti dilalui atau dialami orang yang menapak jalan menuju Allah. Keseimbangan secara proporsional kedua kondisi ini diperlukan agar seseorng tidak tenggelam dalam satu kondisi saja, apakah itu Raja’ saja atau Khauf saja.

Khauf berasal dari kata “khaafa” yang berarti takut. Kata lain yang semakna dengan khauf adalah khasyah (dari kata khasyiya). Perbedaanya terletak pada kondisi subyek (pelaku) kondisi ini. Seseorang yang takut dalam arti khauf mencerminkan ketidakberdayaan secara lahiriyah (fisik). Dia tidak mempunyai daya apa-apa untuk menghindari yang ditakutinya apalagi melawannya. Termasuk dalam katagori ini adalah takut terhadap binatang buas atau takut pada ancaman bom. Sedangkan takut dalam arti khasyyah lebih kepada rasa segan, hormat, patuh, dan tunduk karena kebesaran yang ditakutinya. Di sini, kondisi pelaku tidak takut dalam arti fisik, yakni bukan karena ancaman fisik yang bakal diterimanya.

Penggunaan kedua kata ini dalam al-Qur’an misalnya dijumpai dalam QS. Al-Insaan: 10: innaa nakhaafu min rabbinaa yawman ‘abuusan qamthariiraan (Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan); dan QS.Fathir:28: innama yakhsya Allah min ‘ibadih al-ulama’, (sesungguhnya yang paling patuh kepada Allah ialah hamba-Nya yang ulama).

Khauf dapat diumpamakan seperti kondisi yang dirasakan oleh seorang anak kecil yang ketakutan karena ‘ditakut-takuti ‘ hendak ‘dimakan’ oleh orang dewasa yang bertubuh besar, berewok, dan menyeramkan. Khauf juga dipersamakan dengan perasaan takut yang dialami seseorang yang dikejar-kejar hendak dibunuh oleh sekelompok musuh (misalnya di wilayah konflik) sehingga dia tidak berani bergerak dan bersuara di tempat persembunyiannya.

Demikianlah kira-kira rasa khauf yang dirasakan seorang muslim saat mengingat dosa-dosanya yang demikian banyak sehingga seakan-akan azab api neraka sudah ada di depan matanya dan hampir pasti membakarnya. Saat mengingat bahwa dia pernah memakan makanan yang haram (mencuri atau korupsi) maka dia menyadari bahwa makanan yang telah menjadi darah dan daging dalam tubuhnya tidak akan bersih kecuali dibakar dengan api neraka. “Siapa saja hamba yang dagingnya tumbuh dari (makanan) haram maka Neraka lebih pantas baginya.” (HR. At-Tirmidzi).

Raja’ berasal dari kata rajaa yarjuu rajaa’an, yang berarti mengharap dan pengharapan. Kata rajaa’ dalam al-Qur’an disebutkan misalnya dalam Surah al-Baqarah: 218: ”Innal ladziina aamanuu walladziina haajaruu wajaa haduu fii sabiilillahi ulaa ika yarjuuna rahmatallaahi wallaahu ghafuurur rahiim.” (Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). Dalam ayat ini, rajaa’ (pengharapan) atas rahmat Allah begitu kuat pengaruhnya bagi seorang mukmin.

Pengharapan itu menjadikan mereka rela hijrah, meninggalkan segala kesenangan dan harta yang mereka telah miliki. Mereka tidak berkebaratan mengadu nyawa dengan berjihad berperang melawan musuh-musuh mereka.Rajaa’ merupakan sikap optimisme total. Ibarat seorang pedagang yang rela mempertaruhkan seluruh modal usahanya karena meyakini keuntungan besar yang bakal segera diraihnya. Ibarat seorang ‘pecinta’ yang rela mempertaruhkan segala miliknya demi menggapai cinta kekasihnya. Dia meyakini bahwa cintanya itulah bahagianya. Tanpanya, hidup tiada arti baginya. Rajaa’ atau pengharapan yang demikian besar menjadikan seseorang hidup dalam sebuah dunia tanpa kesedihan. Sebesar apapun bahaya dan ancaman yang datang tidak mampu menghapus ‘senyum’ optimisme dari wajahnya.Kondisi khauf dan rajaa’ sebagaimana disebut di atas tercermin dalam hadis Nabi saw., sebagai berikut:



لَوْ يَعْلَمُ اْلمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللهِ مِنَ الْعُقُوْبَةِ ، مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللهِ مِنَ الرَّحْمَةِ ، مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ

Seandainya seorang mukmin mengetahui siksa yang ada di sisi Allah, maka dia tidak akan berharap sedikitpun untuk masuk syurga. Dan seandainya orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, maka dia tidak akan berputus asa sedikitpun untuk memasuki Syurga-Nya. (HR. Muslim)

Ketika seseorang berada dalam kondisi khauf, maka yang selalu terbayang baginya adalah siksa dan azab Allah yang sangat pedih. Bagaimana tidak? Bukankah hidup ini penuh dengan godaan dosa. Di setiap langkah, laku, dan ucap, selalu saja ada salah dan khilaf. Nikmat Allah berupa mata untuk melihat hanya pantas memandang hal-hal baik. Manakala mata tersebut digunakan memandang hal yang haram maka yang paling pantas untuknya adalah mengembalikan mata itu kepada Allah. Telinga, tangan, kaki, dan segala organ tubuh yang Allah karuniakan kepada manusia hanya diperuntukkan untuk melaksanakan ketaatan. Manakala digunakan untuk maksiyat, maka seseorang tidak berhak lagi atas segala karunia itu. Dan Allah ‘sangat’ berhak untuk menyiksa siapapun yang menyalahgunakan nikmat dan karunia-Nya. Dalam kondisi ini, tidak seorang pun yang boleh merasa aman dari siksa tersebut. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf: 99:

فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya: “Tiada seorang pun yang merasa aman dari siksa Allah kecuali dia termasuk golongan yang merugi”.

Sebaliknya, dalam kondisi rajaa’, seseorang dapat memastikan bahwa dia pasti mendapat rahmat, kasih sayang, dan ampunan Allah. Bagaimana tidak? Padahal orang kafir pun, sebagaimana hadis di atas, berhak untuk berharap masuk syurga. Bahkan Allah melarang siapapun untuk berputus asa dari rahmat-Nya. Allah berfirman dalam QS. Yusuf: 87:

إِنَّهُ لا يَايْئسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Artinya: “Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali golongan orang-orang kafir”.

Dalam sebuah hadis juga disebutkan: “Sungguh Allah lebih berbahagia dengan taubat hamba-Nya ketimbang seorang yang kehilangan hewan kendaraannya di daerah tak bertuan. Hewan beserta makanan, minuman dan segala perbekalannya hilang. Orang itu putus asa untuk menemukan hewan kendaraannya. Ia datang ke sebuah pohon dan tertidur di bawah naungannya. Tapi tiba-tiba ketika bangun, hewan yang hilang itu berdiri di sisinya. Ia pun memegang tali kekangnya. Saking gembiranya ia salah ucap dan mengatakan, “Ya Allah engkau hambaku sedang aku Tuhanmu…” (HR Muslim).

Ketika seseorang terlena dalam optimisme yang tinggi (rajaa’), dia tidak merasa khawatir akan dosa-dosa yang telah, sedang, atau akan diperbuatnya. Baginya, ampunan Allah demikian luas sehingga dia dapat bertaubat kapan saja. Dia akan merencanakan taubat setelah puas melakukan kemaksiyatan. Sebaliknya, dalam keadaan khauf yang berlebihan, hidup seseorang akan kacau dan tidak terkendali. Rasa bersalah dari dosa besar yang telah dilakukannya menutupi harapannya untuk kembali ke jalan yang benar. Dia merasa dan meyakini bahwa apapun kebaikan yang diperbuatnya tidak akan sebanding dengan dosa dan kesalahan yang telah diperbuatnya. Akibatnya, dia tidak segera bertaubat, namun terus menenggalamkan diri dalam kemaksiyatan.

Yang layak bagi seorang muslim dan mukmin adalah konsep keseimbangan spiritualitas. Artinya, dia harus menggabungkan antara Khauf dan Rajaa’ dalam porsi yang benar. Dalam kondisi Khauf, dia meyakini betul akan siksa jika dia melanggar aturan-aturan agama. Namun saat terlanjur dan tergelincir dalam dosa dan maksiyat, dia segera bertaubat dan yakin bahwa taubatnya akan diterima. Optimisme atas kasih sayang dan ampunan Allah membuatnya tersenyum di setiap saat. Namun takutnya kepada siksa atas dosa membuatnya mencucurkan air mata di tengah malam saat SHALAT TAHAJJUD. Wallahu a’lam. Dz.

Tambahan:
A. Khauf (takut kepada Allah SWT)
1. Pengertian Khauf
Secara bahasa Khauf berasal dari kata khafa, yakhafu, khaufan yang artinya takut. Takut yang dimaksud disini adalah takut kepada Allah SWT. Khauf adalah takut kepada Allah SWT dengan mempunyai perasaan khawatir akan adzab Allah yang akan ditimpahkan kepada kita. Cara untuk dekat kepada Allah yaitu mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Firman Allah surah An-Nur 52:
`Artinya: “Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.
Firman Allah Ta’ala :
Artinya: “Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Q.S Al- Imran : 175)

2. Khauf (Takut) ada tiga macam:
a. Khouf thabi’i seperti halnya orang takut hewan buas, takut api, takut tenggelam, maka rasa takut semacam ini tidak membuat orangnya dicela akan tetapi apabila rasa takut ini menjadi sebab dia meninggalkan kewajiban atau melakukan yang diharamkan maka hal itu haram.
b. Khouf ibadah yaitu seseorang merasa takut kepada sesuatu sehingga membuatnya tunduk beribadah kepadanya maka yang seperti ini tidak boleh ada kecuali ditujukan kepada Allah ta’ala. Adapun menujukannya kepada selain Allah adalah syirik akbar.
c. Khouf sirr seperti halnya orang takut kepada penghuni kubur atau wali yang berada di kejauhan serta tidak bisa mendatangkan pengaruh baginya akan tetapi dia merasa takut kepadanya maka para ulama pun menyebutnya sebagai bagian dari syirik.

3. Alasan manusia takut kepada Allah
a. Karena kekuasaan dan keagungan Allah
b. Karena balasan Allah
c. Karena taufiq dan hidayah yang diberikan kepada manusia
d. Karena rahmat dan minat yang dilimpahkan kepada manusia.

Allah bukanlah Dzat yang harus ditakuti dalam arti dijauhi, tetapi dipatuhi segala perintah-Nya dan dijauhi segala larangan-Nya. Allah Maha Pengasih. Lagi Maha Penyayang, Allah Maha Penolong, juga Maha Pengampun.

B. Raja’ (Mengharap ridho kepada Allah SWT)
1. Pengertian Raja’
Raja’ secara bahasa artinya harapan atau cita-cita. Raja’ adalah mengharap ridho, rahmat dan pertolongan kepada Allah SWT, serta yakin hal itu dapat diraihnya, atau suatu jiwa yang sedang menunggu (mengharapkan) sesuatu yang disenangi dari Allah SWT, setelah melakukan hal-hal yang menyebabkan terjadinya sesuatu yang diharapaknnya. Jika mengharap ridha, rahmat dan pertolong Allah SWT, kita harus memenuhi ketentuan Allah SWT. Jika kita tidak pernah melakukan shalat ataupun ibadah-ibadah lainnya, jangan harap meraih ridha,rahmat,dan pertolongan Allah SWT.
Firman Allah Ta’ala :
`Artinya: “Untuk itu, barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Robbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Robb-Nya.” (QS.Al-Kahfi:110)
2. Macam-macam Raja’
Dua bagian termasuk termasuk raja` yang terpuji pelakunya sedangkan satu lainnya adalah raja` yang tercela. Yaitu:
a. Seseorang mengharap disertai dengan amalan taat kepada Allah di atas cahaya Allah, ia senantiasa mengharap pahala-Nya
b. Seseorang yang berbuat dosa lalu bertaubat darinya, dan ia senantiasa mengharap ampunan Allah, kebaikan-Nya dan kemurahan-Nya.
c. Adapun yang menjadikan pelakunya tercela ialah seseorang yang terus-menerus dalam kesalahan-kesalahannya lalu mengharap rahmat Allah tanpa dibarengi amalan. Raja` yang seperti ini hanyalah angan-angan belaka, sebuah harapan yang dusta.

3. Sifat Raja’ kepada Allah SWT
a. Optimis
Optimis adalah memungkinkan seseorang melewati setiap warna kehidupan dengan lebih indah dan membuat suasana hati menjadi tenang.
Allah berfirman dalam Q.S Yusuf ayat : 87
Artinya: 
“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. ”
Rasullah SAW bersabda:
Artinya: “Orang berdosa yang mengharap rahmat Allah jauh lebih disayang Allah dari pada orang taat yang berputus asa.” (H.R Ibnu Mas’ud)

b. Dinamis
Adalah sikap untuk terus berkembang, berfikir cerdas, kreatif, rajin, dan mudah beradaptasi dengan lingkungan.
Orang yang bersikap dinamis tidak akan mudah puas dengan prestasi-prestasi yang ia peroleh, tetapi akan berusaha terus menerus untuk meningkatkan kualitas diri. Inilah ajaran dinamis seperti yang terkandung dalam Q.S Al-Insyirah:7
Artinya:
“Apabila engkau telah selesai mengerjakan suatu urusan, maka bergegaslah untuk menyelesaikan urusan yang lain.”
Rasulaah SAW bersabda:
Artinya: “Bekerjalah kamu untuk urusan dunia, seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati esok hari.” (H.R Ibnu Majah).

4. Factor dalam Raja’:
a. Selalu berpegang teguh kepada tali agama Allah yaitu agama Islam
b. Selalu berharap kepada Allah, agar selalu diberikan kesuksesan dalam berbagai macam usaha dan mendapat ridha dari-Nya
c. Selalu merasa takut kepada ancaman dan siksaan Allah di hari akhirat kelak
d. Selalu cinta (mahabbah) kepada Allah

5. Hikmah Raja’
a. Menciptakan prasangka baik membuang jauh prasangka buruk
b. Mengharapkan rahmat Allah dan tidak mudah putus asa
c. Menjadikan dirinya tenang, aman, dan tidak merasa takut pada siapapun kecuali kepada Allah
d. Dapat meningkatkan amal sholeh untuk bertemu Allah
e. Dapat meningkatkan jiwa untuk berjuang dijalan Allah
f. Dapat meningkatkan kesadaran bahwasannya azab Allah itu amat pedih sehingga harus berpacu dalam kebaikan
g. Dapat meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang telah diteriamnya
h. Dapat menghilangkan rasa hasud, dengki, dan sombong kepada orang lain
i. Dapat meningkatkan rasa halus untuk mencintai sesama manusia dan dicintainya.
Baik Khauf maupun raja` merupakan dua ibadah yang sangat agung. Bila keduanya menyatu dalam diri seorang mukmin, maka seluruh aktivitas kehidupannya akan menjadi seimbang. Dengan khaufakan membawa diri seseorang untuk selalu melaksanakan ketaatan dan menjauhi perkara yang diharamkan; dengan raja` akan menghantarkan dirinya untuk selalu mengharap apa yang ada di sisi Allah.

Minggu, 23 November 2014

Keadaan Manusia ada 4 model

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Keadaan Manusia ada 4 model
1. Orang yang taat dan hidupnya bahagia.
2. Orang yang taat tapi hidupnya susah.
3. Orang yang ahli maksiat tapi hidupnya bahagia.
4. Orang yang ahli maksiat dan hidupnya sengsara.


Bila anda berada pada nombor satu, itu hal biasa, karena Allah berfirman:


«مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ»


"Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, kmaka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan". (An Nahl: 97)


Bila anda berada pada nombor 4, ini juga hal biasa. Karena Allah mengatakan:


«وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى»


"Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (Thaha: 124)


Adapun bila anda berada pada nombor 2, ini barangkali ada dua kemungkinan:


- Boleh jadi Allah mencintaimu dan Dia ingin menguji kesabaranmu, kemudian mengangkat derajatmu. Seperti firman Allah:


«وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَ بَشِّرِ الصَّابِرِينَ »


"Dan sunnguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar". (Al Baqarah: 155)


- Boleh jadi juga di dalam ketaatan anda ada celah dan dosa yang tidak anda sadari hingga anda terus menunda-nunda untuk bertaubat. Untuk itu Allah menguji anda supaya anda kembali kepada-Nya. Allah berfirman:


«وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ»


"Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)". (As Sajdah: 21)


Namun bila anda berada pada nombor 3, berhati-hatilah! Karena barangkali itu adalah istidraj.
Ini adalah keadaan terburuk yang dihadapi oleh seorang manusia dan akibatnya sangat mengerikan. Azab dari Allah pasti datang jika anda tidak mengambil pelajaran dan taubat sebelum nasi berubah menjadi kerak.


Allah berfirman:


«فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ»


"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus (Al An'am: 44)


Allah berfirman:


(وذكر فإن الذكرى تنفع المؤمنين)


"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman". (Adz Dzariyat: 55)

Nasehat untuk hamba Allah yang sudah mampu untuk beribadah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Kisah hamba Allah yang beribadah selama 500 tahun
Dari Jabir r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. telah memberitahu kami bahawa Malaikat Jibrail telah memberitahu Rasulullah s.a.w katanya:”Wahai muhammad demi Allah yang mengutusmu sebagai nabi yang besar, sesungguhnya ada seorang hamba Allah yang beribadat selama 500 tahun diatas sebuah bukit yang lebar,panjangnya bukit itu 30 puluh hasta kali 30 hasta dan disekelilingnya ialah air laut yang seluas 4,000 farsakh dari tiap penjuru.
Dan di situ Allah s.w.t mengeluarkan air selebar satu jari dan dari bawah bukit dan Allah s.w.t juga telah menghidupkan sebuah pohon delima yang setiap hari mengeluarkan sebiji buah delima. Apabila tiba waktu petang hamba Allah itu pun memetik buah delima itu dan memakannya, setelah itu ia pun sembahyang. Dalam sembahyang ia telah meminta kepada Allah s.w.t. supaya mematikannya ketika ia dalam sujud, supaya badannya tidak disentuh oleh Bumi atau apa-apa saja sehingga tibanya hari berbangkit.Maka Allah s.w.t. pun menerima permintaanya.
Berkatalah malaikat lagi:”Oleh itu setiap kali kami naik turun dari langit kami melihatnya sedang sujud, kami mendapat dalam ilmu bahawa ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan dihadapkan kepada Allah s.w.t. lalu Allah s.w.t. menyuruh Malaikat:”masukkanlah hambaku itu ke dalam syurga dengan limpah rahmatku:” maka berkata orang itu:”Dengan disebabkan amalku?” Maka Allah s.w.t. menyuruh malaikat menghitung semua amalnya dengan nikmat yang Allah s.w.t. berikan.Apabila penghitungan dibuat maka amal yang dibuat oleh orang itu selama 500 tahun itu telah habis apabila dikira dengan sebelah mata, yakni nikmat pengelihatan yang Allah s.w.t. berikan padanya, sedangkan nikmat-nikmat lain belum dikira.
Maka Allah s.w.t. berfirman:”Masukkan ia kedalam neraka”.Apabila ia ditarik ke neraka maka ia pun berkata:”Ya Allah, masukkanlah aku ke dalam syurga dengan rahmatmu.”Lalu Allah s.w.t. berfirman kepada malaikat:”Bawakan ia ke mari”.
Kemudian Allah s.w.t. bertanya orang itu:”Siapakah yang menjadikan kamu daripada tidak ada”Lalu orang itu menjawab:”Engkau ya Allah”.Kemudian Allah s.w.t. bertanya lagi:”Apakah itu kerana amalmu atau rahmatku?”.jawab orang itu:”Ya Allah, dengan rahmatmu.”
Allah s.w.t. bertanya lagi:”Siaapakah yang memberikan kekuatan sehingga 500 tahun kamu beribadat?”.Jawab orang itu:”Engkau ya Allah”.
Allah s.w.t. bertanya lagi:”Siapakah yang menempatkan kamu diatas bukit yang di tengah-tengah lautan, dan siapakah yang mengeluarkan air tawar yang bersih dari tengah-tengah lautan yang airnya sangat masin dan siapakah yang menumbuhkan sebuah pohon delima yang mengeluarkan sebiji delima setiap hari, padahal buah itu hanya berbuah setahun sekali lalu kamu meminta supaya aku matikan kamu dalam sujud, jadi siapakah yang membuat semua itu?”
lalu orang itu berkata:”Ya Allah, ya Tuhanku engkaulah yang melakukanya.”

Allah s.w.t. berfirman:
”Maka semua itu adalah dengan rahmatku dan kini aku masukkan kamu ke dalam syurga juga adalah dengan rahmatku.”Malaikat Jibrail berkata:”Segala sesuatu itu terjadi hanya dengan rahmat Allah s.w.t.
Amal yang dibuat oleh seseorang itu tidak akan dapat menyamai walaupun setitik debu sekalipun dengan nikmat yang Allah s.w.t. berikan pada hambanya, oleh itu janganlah mengharapkan amal kita itu akan dapat memasukkan kita ke dalam syurga Allah s.w.t. sebaliknya memohonlah dengan rahmatnya.
Sebab hanya dengan rahmat Allah s.w.t. sajalah seseorang itu dapat memasuki syurganya. Apabila kita memohon kepada Allah s.w.t. supaya dimasukkan ke dalam syurga dengan rahmatnya maka mintalah supaya Allah s.w.t. memasukkan kita dengan rahmatnya ke dalam syurga FIRDAUS. Insya’Allah.

Senin, 17 November 2014

Runtuhnya Ka’bah di Akhir Zaman

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ












BANYAK riwayat yang menguatkan tentang akan runtuhnya Ka’bah di akhir zaman. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ka’bah akan diruntuhkan oleh seorang yang berkaki bengkok berkebangsaan Habasyah.”


Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah melakukan thawaf di Baitullah semampu kalian sebelum kalian dihalangi untuk melakukannya, seolah-olah aku melihatnya sedang melakukan hal tersebut. Tanda-tandanya: berkepala dan bertelinga kecil, dia menghancurkan Ka’bah dengan beliungnya.”


Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tandanya orang tersebut berkulit hitam, kakinya bengkok (seperti letter O), dia meruntuhkan batu dinding Ka’bah satu per satu.”


Diriwayatkan dari Sa’id bin Sam’an radhiallahu ‘anhu, bahwa dia mendengar Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bercerita kepada Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu, bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang laki-laki (Imam Mahdi) akan dibai’at di antara sudut (tempat Hajar Aswad) dan Maqam Ibrahim, dan Ka’bah tidak akan dirusak kehormatannya melainkan oleh orang Arab sendiri, dan bila mereka telah merusak kehormatan Ka’bah, maka itulah saatnya kehancuran bangsa Arab, kemudian datang orang-orang Habasyah meruntuhkan Ka’bah yang setelah itu tak pernah dibangun kembali selama-lamanya, dan merekalah yang menggali harta yang terpendam di dalamnya.”


Hadis di atas tidak bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Aisyahradhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebuah pasukan hendak menyerang Ka’bah, hingga ketika mereka berada di sebuah padang pasir, semua pasukan ditenggelamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala ke dalam bumi.”


Ibnu Hajar dalam bukunya “Fath al-Bari” dalam bab: runtuhnya Ka’bah, berkata: “Hadis-hadis di atas menjelaskan akan terjadinya penyerangan terhadap Ka’bah. Penyerang pertama dimusnahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum mereka sampai ke Ka’bah, dan penyerangan kedua dibiarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sepertinya penyerang yang dimusnahkan terjadi lebih awal.”


Dan jangan sampai timbul pertanyaan: Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menggagalkan penyerangan tentara bergajah terhadap Ka’bah padahal saat itu Ka’bah belum menjadi kiblatnya umat Islam, maka mana mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala membiarkan bangsa Habasyah menghancurkannya setelah Ka’bah menjadi kiblatnya umat Islam?


Pertanyaan ini tak akan muncul, andai dijelaskan bahwa peristiwa runtuhnya Ka’bah akan terjadi nanti di akhir zaman menjelang kiamat terjadi. Di waktu itu tidak ada seorang pun di permukaan bumi yang mengucapkan, “Allah! Allah”, seperti yang disebutkan dalam shahih Muslim: “Kiamat tidak akan terjadi hingga tidak ada lagi orang yang mengucapkan, “Allah! Allah.” [Sumber:Sejarah Kota Mekah oleh Syaikh Syaifurrahman Mubarakfury]


musuh yang nyata bagi kaum muslimin

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Umat Islam Melawan Thaghut Internasional di Akhir Zaman











KITA saat ini hidup di zaman yang penuh dengan kesyirikan, kekufuran, kemunafikan, kemungkaran, dan kemaksiatan. Kita saat ini hidup di zaman dominasi sistem thaghut dalam semua lini kehidupan. Di bidang akidah, sistem thaghut paganisme, pluralisme, liberalisme, sekulerisme, materialisme, humanisme dan lainnya menancapkan kuku-kukunya dan menyemburkan racun-racunnya untuk merusak akidah kaum muslimin.


Di bidang politik, sistem thaghut sekulerisme, demokrasi, dan zionisme menjajah negeri-negeri kaum muslimin, merusak akidah, akhlak, politik dan tatanan kehidupan kaum muslimin. Di bidang ekonomi, sistem thaghut kapitalisme dan sosialisme mencekik leher kaum muslimin, merampok kekayaan alam negeri-negeri kaum muslimin, dan memperbudak kaum muslimin dengan belenggu hutang, investasi asing, dan pasar bebas.


Di bidang sosial dan budaya, sistem thaghut liberalisme merusak kaum muslimin melalui musik, film, seks bebas, dan gaya hidup hedonis. Di bidang militer, aliansi zionis-salibis-paganis-komunis dan sekuleris internasional bersatu padu memerangi para pejuang Islam lewat skenario perang global melawan ‘terorisme’.


Kita saat ini hidup di zaman yang penuh dengan tantangan dan gangguan terhadap kelurusan akidah, ibadah, akhlak, dan mu’amalah Islam. Beragam bentuk syubhat dan syahwat datang silih berganti, mendera, mencoba untuk melemahkan komitmen kita terhadap dien Allah. Bahkan mencoba untuk memurtadkan kita!


Sebuah zaman yang diumpamakan dengan potongan-potongan malam yang kelam dan gelap gulita. Sebuah zaman yang bisa merubah keislaman dan keimanan seorang muslim dengan begitu cepat.






عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ المُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا»


Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Bersegeralah untuk melakukan amal-amal kebaikan sebelum datang fitnah-fitnah (ujian-ujian) bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita. Pada waktu pagi seseorang masih beriman, namun pada waktu sore ia sudah menjadi orang kafir. Dan pada waktu sore seseorang masih beriman, namun pada waktu pagi ia sudah menjadi orang kafir. Ia menjual agamanya demi mendapatkan sedikit kenikmatan dunia.”






عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سِتًّا: الدَّجَّالَ، وَالدُّخَانَ، وَدَابَّةَ الْأَرْضِ، وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَأَمْرَ الْعَامَّةِ، وَخُوَيْصَّةَ أَحَدِكُمْ “


Dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW bersabda, “Bersegeralah mengerjakan amal-amal kebaikan sebelum datang enam perkara: Dajjal, Dukhan (asap tebal yang menyelimuti seluruh bumi), Daabbah (binatang yang keluar dari perut bumi dan bisa berbicara kepada manusia), matahari terbit dari tempat tenggelamnya, urusan umum (kesibukan memimpin rakyat), dan urusan pribadi (kematian) salah seorang di antara kalian.”


Dalam situasi zaman seperti ini, setiap muslim dituntut untuk meneguhkan iman dan menguatkan pegangan kepada petunjuk hidup yang Allah SWT turunkan kepada Rasulullah SAW. Setiap muslim harus memperbarui ilmu, amal, dan niatnya dalam setiap waktu dan keadaan. Setiap muslim harus memahami dengan baik ajaran dien Islam sebagai pedoman hidup yang lurus, dan menjauhi semua ajaran dan jalan yang menyimpang dari Islam. Baik ajaran dan jalan orang-orang yang mengetahui kebenaran namun enggan mengamalkannya maupun ajaran dan jalan orang-orang yang beramal tanpa landasan ilmu kebenaran.


Wallahu’alam bi showab.


Senin, 03 November 2014

anda pasti punya obsesi bukan? apa obsesi mu?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Bukan karena terinspirasi dengan “tag line” sebuah iklan. Atau, ingin membantu mempopulerkan (apalagi produknya) iklan tersebut. Namun, masalah obsesi sesungguhnya memang adalah hal yang sangat penting. Obsesi yang berarti keinginan kuat, adalah hal yang dapat mendorong seseorang untuk berbuat lebih gigih dan keras. Para ahli manajemen sumber daya manusia menyebut obsesi ini sebagai motivasi intrinsik. Motivasi yang berasal dari dalam jiwa manusia yang menuntunnya untuk tetap melangkah.


Karena obsesi tersebutlah, seseorang rela untuk meniti hari-harinya dengan penuh peluh. Seseorang rela untuk melintasi gunung, seberangi hutan dan arungi lautan demi mengejar obsesinya tersebut. Untuk itu, kesalahan dalam menentukan obsesi akan menentukan kesalahan seluruh langkah yang akan dibuat. Karena pentingnya makna obsesi itulah, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wasallam yang mulia memberikan panduan untuk kita dalam menentukan obsesi hidup.


Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wasallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah rahimahullahu ta’ala dari sahabat Utsman Ibn Affan radhiyallahu ‘anhu :


“Barangsiapa yang akhirat menjadi obsesinya, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan melancarkan semua urusannya, menjadikan hatinya terasa kaya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan, barangsiapa yang dunia menjadi obsesinya, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengacaukan semua urusannya, menjadikan hatinya miskin, dan dunia akan datang kepadanya sebatas yang ditakdirkan kepadanya.” (Sunan Ibnu Majah, no. 4095)

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wasallam menjelaskan kepada kita bahwa obsesi manusia secara umum terbagi atas dua hal. Obsesi akhirat dan obsesi dunia.


Orang yang terobsesi dunia adalah orang yang menjadikan dunia dan hiasannya (jabatan, harta, popularitas ataupun kesenangan seksual) sebagai tujuan-tujuan hidupnya. Ia termotivasi untuk melakukan sesuatu jika diimingi-imingi dengan “bunga-bunga” dunia tersebut. Ia bergerak hanya untuk mencari dunia. Ia lupa bahwa dunia ini hanyalah tempat singgah sementara. Sebuah terminal atau pemberhentian sementara dalam perjalanan panjang ke kampung keabadian. Sebagaimana sabda Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wasallam yang mulia ;“Jadilah kalian di dunia ini sebagai orang asing atau pengembara” (Shahih Bukhari no. 5937).


Jika seseorang hanya bergerak karena alasan dunia, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikan kecintaan terhadap akhirat keluar dari dalam hatinya. Sebagaimana ungkapan seorang salafus shalih bernama Malik Ibn Dinarrahimahullahu ta’ala, “Demi Allah, dua hal tidak akan pernah bertemu dalam hati seorang manusia, yaitu sedih karena akhirat dan bahagia karena dunia. Salah satu dari keduanya harus mengusir yang lainnya.”


Setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan seseorang demikian terobsesi terhadap dunia.


Pertama, lupa akan hari akhir dan kedahsyatannya. Orang yang terobsesi terhadap dunia, lupa bahwa kehidupan ini adalah sawah dan ladang beramal untuk akhirat. Mereka menyangka bahwa kehidupan ini akan berakhir begitu saja setelah nyawa tercabut dari tubuh. Karena itulah ia menghabiskan waktu-waktu hidupnya hanya untuk bekerja mencari dunia dan bersenang-senang. Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan karakteristik mereka dalam ayat-Nya :“Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (Qur’an surat al-Jatsiyah ayat 24).


Dikisahkan, Imam Hasan al-Bashri rahimahullahu ta’ala pernah berjalan melewati orang-orang yang sedang tertawa. Lalu Hasan al-Bashri bertanya kepada orang itu, “Saudaraku, apakah engkau pernah melewati titian akhirat (sirath) ?” Orang itu menjawab, “Belum.” Lalu, Hasan al-Bashri bertanya kembali, “Kalau begitu, kenapa engkau tertawa seperti ini, padahal hari-hari kelak amatlah sulit ?”


Kedua, ambisi terhadap jabatan. Mereka yang ambisius terhadap jabatan dan kekuasaan akan menghabiskan seluruh kehidupannya untuk mencapainya. Bahkan tak jarang menghalalkan segala cara agar mampu berkuasa. Abu Ja’far al-Mihwalli, seorang salafus shalih, mengungkapkan, “Seseorang yang memiliki jabatan, haram baginya merasakan kenikmatan akhirat.”




Ketiga, tertipu dengan kesehatan. Orang-orang yang tertipu dengan kebugaran fisiknya seringkali merasa bahwa kematian masih sangat jauh darinya. Ia mengira bahwa kematian hanya menghampiri orang-orang yang sakit atau telah tua. Padahal kematian akan menghampirinya tanpa diduga.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (Qur’an surat Qaf ayat 19).

Jika seseorang terobesesi terhadap dunia, maka Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wasallam menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menyediakan tiga “hadiah” bagi mereka. Pertama, Allah akan menjadikan semua urusannya kacau. Sehingga hidupnya akan terasa sempit dan sesak. Yang kedua, Allahsubhanahu wa ta’ala juga akan menjadikan dirinya senantiasa kekurangan. Sehingga ia akan terus haus terhadap dunia. Layaknya seseorang yang meminum air laut, bukannya kesegaran yang ia raih namun dahaga yang tak habis-habisnya. Merekalah sesungguhnya orang-orang yang miskin. Dan yang terakhir, Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan kepada mereka sebatas apa yang telah ditakdirkan kepada mereka. Tak lebih. Padahal kebutuhan-kebutuhan hidup mereka Allah akan tambah terus-menerus.


Sebaliknya, bagi orang-orang yang terobsesi terhadap akhirat, Allah akan anugerahkan kepada mereka tiga kenikmatan. Pertama adalah, Allah akan mempermudah semua urusannya. Sebagaimana ungkapan Allah SWT dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Apabila Aku (Allah subhanahu wa ta’ala) telah mencintai hamba-Ku, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia melihat, Aku akan menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat, Aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia memukul, dan Aku akan menjadi kakinya yang dengannya ia melangkah. Apabila ia meminta kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Dan apabila ia berlindung kepada-Ku, aku akan menjaganya.” (Shahih Bukhari, no. 6021).


Anugerah kedua bagi orang-orang yang terobsesi kepada akhirat adalah, Allah akan menjadikan hatinya kaya. Allah cukupkan segala urusannya, sehingga ia mampu untuk berbagi dengan sesama.


Dan yang terakhir, Allah subhanahu wa ta’ala akan mendatangkan dunia kepadanya sambil menunduk. Kehidupan dunianya dipermudah oleh Allahsubhanahu wa ta’ala. Allah memberikan rezki kepadanya, tanpa batas. “Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberikan rezki kepada tanpa diduga dan terhitung.” (Qur’an surat at-Thalaq ayat 2 – 3).


Karena itu beruntunglah, orang-orang yang obsesi hidupnya kepada akhirat. Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana karakteristik mereka ? Sekurangnya, ada tiga hal yang menjadi karakter manusia pengobsesi akhirat.


Pertama, mereka adalah orang yang ikhlas. Lurus ber-Tauhid. Hanya bergerak untuk dan karena Allah semata. Mereka bekerja bukan semata-mata karena mencari nafkah, namun jauh daripada itu karena sadar bahwa bekerja adalah beribadah. Bahkan seluruh aktifitas hidup dan tarikan nafasnya adalah ibadah.


Kedua, pengobsesi akhirat adalah pengagum Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wasallam. Menjadikan Muhammad shallaLlahu ‘alayhi wasallam sebagai contoh dalam hidupnya. Berjalan sesuai dengan sunnah-nya.


Ketiga, para pengobsesi akhirat adalah orang-orang yang memiliki semangat berbagi yang tinggi. Ia sadar bahwa ia tidak hanya hidup bagi dirinya sendiri, namun juga harus memberi manfaat bagi sebanyak mungkin manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wasallam, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Atau, ungkapan seorang pejuang Islam di Mesir, Sayyid Quthb rahimahullahu ta’ala, “Orang kerdil adalah orang yang hidup untuk dirinya sendiri dan mati untuk dirinya sendiri. Sedangkan, orang besar adalah orang yang hidup untuk orang lain dan mati untuk orang lain.”


Jadi, apa obsesimu ?


Wallahu a’lam bis showwab





Apa sebenarnya posisi harta untuk kita?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


cara pandang terhadap harta yang benar sesuai al-quran al- kariim

Ada dua macam golongan yang dibenci dalam Islam dalam memandang harta dan kekayaan. Satu golongan mengatakan bahwasannya harta merupakan segala-galanya. Harta dianggap sebagai solusi problematika umat. Sehingga golongan tersebut menjadikan harta sebagai ilah (tuhan)nya. Mereka menganggap bahwasannya manusia diciptakan di dunia hanyalah untuk mengejar dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.


Adapun golongan lain menganggap bahwasannya manusia “tidak butuh” harta. Mereka merasa dicukupkan atas aktifitasnya dalam cakupan ibadah mahdlalh saja, karena harta bagi mereka merupakan syaithan yang harus dihindari secara total dalam kehidupan dunia. Sehingga,….tidak jarang kehidupan mereka sangat tergantung pada orang lain. Hidup di atas sedekah pemberian orang lain. Mereka merasa tidak mempunyai waktu yang cukup untuk diluangkan mencari nafkah bagi istri, anak-anak, dan keluarganya.


Dua golongan di atas adalah dua golongan yang salah dalam pandangan Islam. Lalu bagaimana sebenarnya Islam memandang tentang masalah harta ? Apakah harta akan didudukkan menjadi salah satu orientasi hidup atau dakwah ? atau………….harta dijadikan seperti singa ganas yang siap menerkam mangsa sehingga wajib bagi setiap orang untuk menghindarinya, bahkan membunuhnya ?? Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan (wasath). Mudah diucapkan, namun bagaimana implementasinya ?? Al-Qur’an telah memberi gambaran kepada kita bagaimana sikap pertengahan yang dimaksud.


Seluruh Alam adalah Milik Allah yang Diciptakan untuk Manusia


Al-Qur’an telah menjelaskan bahwasannya seluruh alam beserta isinya ini adalah milik Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya :


أَلا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ أَلا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ


”Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya).”[QS. Yunus : 55].


أَلا إِنَّ لِلَّهِ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ وَمَا يَتَّبِعُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ شُرَكَاءَ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ


“Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka-prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga” [QS. Yunus : 66].


Dan Allah ta’ala menciptakan semuanya itu untuk kepentingan manusia, sebagaimana firman-Nya :


هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا


”Dia-lah Allah, yang menjadikan segala sesuatu yang ada di bumi untuk kamu….” [QS. Al-Baqarah : 29].


Dan semua apa-apa yang diciptakan Allah ta’ala di alam ini untuk manusia merupakan rahmat dari-Nya yang diberikan kepada segenap umat manusia, sebagaimana firman-Nya :


وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ


”Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir” [QS. Al-Jaatsiyyah : 13].


Oleh karena penciptaan alam semesta dan seisinya ini sebagai rahmat yang Allah ta’aladiberikan kepada manusia, jangan sampai manusia menggunakannya dalam jalan-jalan kebathilan. Hal ini adalah sebagaimana firman-Nya :


وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ


”Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil, dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” [QS. Al-Baqarah : 188].


Status Harta Bagi Manusia


Di atas telah dijelaskan bahwasannya semua yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah ta’ala. Termasuk dalam hal ini adalah harta benda. Pada hakikatnya, manusia dikaruniai oleh Allah ta’ala harta benda adalah sebagai titipan dan amanah yang harus dipergunakan sebagaimana mestinya. Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya :


آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ


”Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman diantara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar” [QS. Al-Hadid : 7].


Harta merupakan perhiasan dunia yang Allah ta’ala jadikan sebagai salah satu ujian keimanan/cobaan bagi manusia, sebagaimana firman-Nya :


الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا


”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” [QS. Al-Kahfi : 46].


وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ


”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar” [QS. Al-Anfaal : 28].


Harta bukanlah tujuan, namun tidak lebih hanya sebagai salah satu sarana dan bekal untuk beribadah kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala telah berfirman dalam salah satu ayatnya :


انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ


”Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” [QS. At-Taubah : 41].


Selain QS. At-Taubah : 41 di atas, masih banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menempatkan harta sebagai salah satu wasilah dalam ibadah. Allah ta’alamemerintahkan shadaqah, infak, dan zakat; yang kesemuanya itu dengan menggunakan harta. Allah ta’ala telah mewajibkan haji bagi yang mampu. Itu pun juga menggunakan harta. Untuk mewujudkankannya, Allah ta’ala telah mewajibkan manusia untuk mencari nafkah yang berupa harta yang halal; yang dengan harta itu ia juga bisa menunaikan kewajibannya untuk memenuhi hak-hak istri, anak, dan keluarganya. Allahta’ala telah berfirman :


وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ


”Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada Allah” [QS. Al-Qashshash : 73].


اعْمَلُوا آلَ دَاوُدَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ


”Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih” [QS. Sabaa’ : 13].


هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ ذَلُولا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ


”Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” [QS. Al-Mulk : 15].


Tentunya, semua perbuatan ma’ruf dan ibadah yang dilakukan oleh manusia hanya diharapkan untuk keridlaan Allah dan balasan kelak di negeri akhirat berupa kenikmatanJannah (surga).


Nikmat harta adalah nikmat yang harus disyukuri sebagaimana firman-Nya ta’ala :


قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


”Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” [QS. Al-An’aam : 162].


وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ


”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan : Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” [QS. Ibrahim : 7].


Allah Telah Mengingatkan Manusia Agar Tidak Tamak terhadap Dunia dan Harta


Allah ta’ala telah menciptakan manusia dalam tabiat cinta terhadap harta. Akan tetapi, Allah ta’ala mencela pada orang yang berlebihan mencintai harta hingga menyebabkan dirinya menjadi seorang yang bakhil, sombong, dan lupa terhadap Allah. Allah ta’alatelah berfirman mengenai hal tersebut :


وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا


”Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan” [QS. Al-Fajr : 20].


إِنَّ الإنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ * وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ * وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ


”Dan sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya. Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya. Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta” [QS. Al-‘Aadiyaat : 6-8].


كَلا إِنَّ الإنْسَانَ لَيَطْغَى * أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى


”Ketahuilah ! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,karena melihat dirinya serba cukup” [QS. Al-‘Alaq : 6-7].


وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الأرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ


”Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi. Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat” [QS. Asy-Syuura : 27].


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ


”Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi” [QS. Al-Munaafiquun : 9].


Cinta yang berlebihan terhadap harta menyebabkan dia lupa mati sampai dirinya dibungkus kain kafan dan dimasukkan ke liang lahad. Allah ta’ala telah berfirman :


أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ * حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ * كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ * ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ * كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ * لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ * ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ * ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ


”Bermegah-megahan telah melalikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul-yaqiin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” [QS. At-Takaatsur : 1-8].


وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ * الَّذِي جَمَعَ مَالا وَعَدَّدَهُ * يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ


”Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya” [QS. Al-Humazah : 1-3].


Mengapa Kita Menjadi Orang yang Miskin Harta ?


Bagi orang-orang yang muslim, cobaan atas sempitnya rizki dan kekurangan harta dapat disebabkan oleh :


1. Hukuman/balasan atas perbuatan dosa dan maksiat yang ia kerjakan.


Allah ta’ala telah berfirman :


وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ


”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” [QS. Asy-Syuura : 30].


أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ


”Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud) padahal telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada Perang Badar) kamu berkata : “Dari mana datangnya kekalahan ini?”. Katakanlah : “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri” [QS. Aali Imran : 165].


مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ


”Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih maka itu untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan” [QS. Al-Jaatsiyyah : 15].


مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ


”Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri. Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya” [QS. Fushshilat : 46].


2. Sebagai ujian dan cobaan atas keimanannya.


الم * أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ * وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ


”Alif Laam Miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka diniarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi ? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” [QS. Al-Ankabuut : 1-3].


وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ


”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” [QS. Al-Baqarah : 155].


وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ


”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaandan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar” [QS. Al-Anfaal : 28].


KESIMPULAN


Sebenarnya masih banyak ayat-ayat lain yang menjelaskan tentang harta, kekayaan, kemanisan dunia, usaha, dan berbagai urusan muamalat lain di dalam Al-Qur’an. Namun setidaknya, dengan memperhatikan beberapa ayat yang telah disebutkan di atas kita dapat melihat posisi harta, kekayaan, dan segala kenikmatan dunia ini secara komprehensif dengan cara pandang yang shahih (benar) yaitu :


1. Semua dunia dan seisinya ini adalah milik Allah ta’ala yang Allah ciptakan untuk kepentingan manusia. Termasuk dalam hal ini adalah harta dan kekayaan.


2. Harta dan kekayaan merupakan salah satu wasilah/perantara dan pendukung untuk ibadah kita kepada Allah ta’ala. Karena ibadah kepada Allah merupakan tujuan diciptakannya jin dan manusia, sebagaimana firman-Nya :


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ


”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”[QS. Adz-Dzaariyyaat : 56].


3. Manusia diciptakan dalam tabiat cinta kepada harta. Kecintaan terhadap harta dan kekayaan banyak membuat manusia ingkar kepada Allah ta’ala dan berbuat maksiat kepada-Nya, kecuali bagi mereka yang diberi petunjuk oleh Allah ta’ala.


4. Allah ta’ala telah banyak mencela dalam beberapa ayat-Nya tentang ketamakan manusia terhadap harta dan kekayaan.


5. Harta dan kekayaan merupakan salah satu ujian yang diberikan Allah ta’ala kepada manusia di dunia.


6. Allah ta’ala telah memerintahkan manusia untuk bekerja mencari harta secara tidak berlebih-lebihan, serta menggunakan harta sesuai dengan haknya. Wajib bagi manusia mencari harta yang halal dari usaha yang halal untuk mencari keridlaan Allah ta’ala dengan penuh kesungguhan, sebagaimana firman-Nya :


قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ


Katakanlah : “Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kesanggupanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula) . Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang yang dhalim itu tidak akan mendapat keberuntungan” [QS. Al-An’aam : 135].


7. Manusia berkewajiban bersyukur kepada Allah ta’ala terhadap segala nikmat yang telah Allah ta’ala berikan, termasuk dalam hal ini adalah nikmat harta dan lapangnya rizki.


8. Manusia tidak diberikan beban melainkan apa yang dia sanggupi saja. Ia tidak bolehtakalluf (terlalu membebani diri) dalam mencari harta sehingga berbuat yang haram dan melalaikan hak-hak Allah ta’ala. Allah ta’ala telah berfirman :


وَلا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا وَلَدَيْنَا كِتَابٌ يَنْطِقُ بِالْحَقِّ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ


“Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu Kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya” [QS. Al-Mukminuun : 62].


قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلالا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ


Katakanlah : “Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal?”. Katakanlah : “Apakah Allah telah memberikan ijin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” [QS. Yunus : 59].


9. Allah ta’ala tidak membebani manusia harus menjadi seorang yang kaya harta. Allahta’ala hanya membebani manusia agar berusaha sesuai dengan kemampuan. Dan hasil itu adalah di tangan Allah. Allah ta’ala telah melapangkan dan menyempitkan rizki seorang sesuai dengan kehendak-Nya. Dan itu merupakan taqdir kauni, sebagaimana firman-Nya :


أَوَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ


”Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rizki dan menyempitkannya bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya ? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman”[QS. Az-Zumar : 52].


10. Kedudukan harta dan kekayaan tidak boleh sejajar atau bahkan lebih tinggi dengan kedudukan iman dan ibadah kepada Allah. Hal itu sebagaimana yang disiratkan Allah ta’ala dalam ayat-Nya :


الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا


”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” [QS. Al-Kahfi : 46].


11. Hidup di dunia bukanlah hidup mencari harta. Hidup bukan pula untuk berfoya-foya dan bersenang-senang semata. Namun hidup adalah untuk beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya.


12. Terkait dengan nomor 11, dakwah yang kita lakukan pun tidak diorientasikan kepada dakwah mencari harta dan kekayaan. Namun dioreintasikan kepada dakwah memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata. Atau dengan kata lain, orientasi dakwah kita adalah menjadikan dakwah Tauhid sebagai fokus paling utama dan yang paling pertama. Itulah misi utama dakwah para Nabi dan Rasul, sebagaimana firman-Nya ta’ala :


وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ


”Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut” [QS. An-Nahl : 36].


13. Allah ta’ala tidak mengancam manusia dengan siksa neraka karena miskin dan tidak punya harta. Allah hanya mengancam manusia akibat maksiat dan keingkaran yang mereka lakukan. Adapun kaya atau miskin lagi tidak punya harta merupakan salah satu dari banyak nikmat atau cobaan yang Allah berikan kepada manusia.


Dan terakhir,……….saya ajak ikhwah semua merenungi dua ayat berikut :


وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ


”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” [QS. Al-A’raaf : 96].


وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ


”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridlai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” [QS. An-Nuur : 55].


Dua ayat di atas menjelaskan janji Allah akan kehidupan yang lebih baik di dunia, yaitu melimpahnya barakah dari langit dan bumi, menjadikan kaum muslimin berkuasa di muka bumi, serta menghilangkan ketakutan dan menjadikannya rasa aman. Semua itu akan terpenuhi dengan syarat beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya, melaksanakan semua perintah, dan menjauhi semua larangan-Nya. Itulah syaratnya. Sehingga,….perbaikan umat harus dimulai dari yang paling dasar, yaitu perbaikan mengenai masalah Tauhid dan menjauhkan mereka dari syirik. Selain itu, menjelaskan pada umat tentang kewajiban yang dibebankan kepada mereka dari syari’at Islam secara bertahap. Karena banyak saat ini umat Islam yang jahil terhadap agamanya sendiri, tidak menjalankan apa-apa yang dibebankan kepada mereka, dan mereka malah mengerjakan apa-apa yang dilarang atas mereka. Itulah yang menjadi tugas setiap muslimin yang mempunyai kemampuan untuk menyampaikannya. Yaitu menyampaikan aqidah Tauhid secara murni, melarang perbuatan syirik, menyampaikan Sunnah, dan melarang maksiat serta bid’ah. Adapun bila setelah itu Allah ta’alamemberikan kenikmatan kepada kita berupa beberapa kenikmatan dunia, itu semua merupakan kemurahan, karunia, dan rahmat Allah yang diberikan kepada makhluk-Nya di dunia. Namun, kita hendaknya tidak mengejar itu semata (yaitu kenikmatan dunia). Hanyalah keridlaan Allah dan balasan-Nya yang besar di akhirat kelak lah yang kita harapkan secara hakiki.


Wallaahu a’lam


Abu Al-Jauzaa’ 1427 H – direpro 1431 H

Minggu, 19 Oktober 2014

menelaah hadits yang berbungyi "perbedaan itu rahmat"

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Al Albani mengatakan didalam “Silsilah al Ahadits adh Dhaifah” (1/141) bahwa hadits “Perbedaan umatku adalah rahmat” tersebut tidaklah memiliki dasar. Para ahli hadits telah berupaya didalam meneliti tentang sanadnya namun mereka semua tidak mendapatkannya kecuali perkataan Suyuthi didalam “al Jami’ ash Shoghir”,”Barangkali ia diriwayatkan didalam beberapa kitab para Hufazh yang belum sampai kepada kita.” Dan ini jauh menurutku (Al Albani) jika ada dari beberapa hadits Nabi saw yang hilang dan ini tidak pantas diyakini oleh seorang muslim.


Al Manawiy menukil dari as Subkiy, dia mengatakan bahwa hadits tersebut tidak dikenal dikalangan para ulama hadits dan aku tidak menemukan bahwa hadits itu memiliki sanad yang shahih, lemah atau maudhu’. Hal itu ditegaskan oleh Syeikh Zakaria al Anshariy didalam catatannya tentang “Tafsir al Baidhowi” (2/92). (as Silsilah adh Dhaifah juz I hal 134)


Syeikh Athiyah Saqar mengatakan bahwa hadits “Perbedaan umatku adalah rahmat” disebutkan oleh Baihaqi ddalam “Risalah” nya dan mensanadkannya dari hadits Ibnu Abbas didalam “al Madkhol” dengan lafazh “Perbedaan para sahabatku adalah rahmat bagi kalian.” Dengan sanadnya yang lemah sebagaimana disebutkan al Iraqi didalam ‘takhrijnya terhadap hadits-hadits yang ada didalam kitab “Ihya Ulumuddin” (juz I hal 25)


Sebab dari perkataan itu—sebagaimana disebutkan beberapa kitab—bahwa seorang Arab Badui telah bersumpah tidak menghampiri istrinya pada satu waktu dari masa (al hiin minad dahr) namun orang Arab badui itu tidaklah menentukan lamanya satu waktu dari masa yang disumpahkan itu.

Orang itu pun mendatangi Rasulullah saw untuk menanyakannya namun dia tidak mendapati Rasulullah saw lalu dia menanyakannya kepada Abu Bakar ra maka Abu Bakar pun mengatakan,”Pergilah dan ceraikan isterimu, karena makna dari satu waktu dari masa berarti sepanjang umurmu seluruhnya.” Lalu orang Arab Badui itu pun bertanya kepada Umar maka Umar pun berkata,”Jika kamu hidup hingga empat puluh tahun maka dimungkinkan bagimu untuk kembali kepada isterimu karena makna al hiin adalah empat puluh tahun.”


Lalu orang itu bertanya kepada Utsman maka Utsman pun menjawab,”Tunggulah setahun lalu kembali lah kepada isterimu, karena al hiin adalah satu tahun saja.” Lalu orang itu bertanya kepada Ali ra maka Ali bertanya kembali kepadanya,”Kapan kamu bersumpah?” orang itu menjawab,”Kemarin.” Utsman pun menjawab,”Kembalilah kepada isterimu karena makna al hiin adalah setengah hari.”


Lalu orang Arab Badui itu mengisahkannya kepada Rasulullah saw maka Rasulullah saw pun bertanya kepada para sahabat yang empat itu tentang dasar pendapat mereka.

Abu Bakar pun mengatakan bahwa dirinya mendasarkannya kepada firman Allah swt terhadap kaum Yunus :


فَلَوْلاَ كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلاَّ قَوْمَ يُونُسَ لَمَّآ آمَنُواْ كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الخِزْيِ فِي الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ


Artinya : “Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (QS. Yunus : 98)


Rasulullah saw pernah menafsirkan hal itu bahwa Allah swt telah membiarkan mereka tanpa diadzab sepanjang usia mereka.


Sementara Umar menyandarkan pendapatnya kepada firman Allah swt :


هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْئًا مَّذْكُورًا


Artinya : “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang Dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al Insan : 1)


Rasulullah saw pernah menafsirkan hal itu bahwa telah datang atas Adam selama empat puluh tahun sebagai makhluk yang telah dibentuk yang tidak mengetahui siapa dirinya, siapa namanya dan apa yang diinginkan darinya.


Sementara Utsman menyadarkan pendapatnya kepada firman Allah swt :


Artinya : “Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.” (QS. Ibrahim : 25) dan pohon korma memberikan buahnya setiap tahun.


Sedangkan Ali menyandarkan pendapatnya kepada firman Allah swt :


Artinya : “Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh,” (QS. Ar Ruum : 17) dan hiin (waktu itu) adalah setengah hari.

Ada juga yang mengatakan bahwa sesungghunya kisah ini adalah terhadap sabda Rasulullah saw,”Para sahabatku seperti bintang-bintang, siapa saja dari mereka yang kalian ikuti maka kalian akan mendapatkan petunjuk.” Ini juga hadits lemah bahkan ada yang mengatakan maudhu’ (palsu), diriwayatkan oleh ad Darimiy.


Hadits-hadits lainnya yang semisal itu memiliki sanad-sanad yang lemah, apa pun derajat hadits ini maka hal itu bukanlah suatu pujian dari Nabi saw terhadap segala bentuk perbedaaan akan tetapi terhadap perbedaan didalam pendapat ijtihadi yang didalamnya tidak terdapat nash yang qoth’i dan setiap dari mereka menyandarkan pendapatnya kepada nash Al Qur’an maka hal itu dimaafkan jika terjadi kesalahan.


Sebagaimana diketahui bahwa perbedaan didalam berbagai pendapat ijtihadiyah akan memberikan kesempatan kepada manusia untuk memilih yang sesuai dengan keadaannya maka dari sinilah muncul berbagai madzhab fiqhi yang kita kenal dan bersikap taqlid kepada madzhab mana pun maka diperbolehkan dan tidak ada kesempitan didalamnya. (Fatawa Al Azhar juz VIII hal 209)


Dengan demikian meskipun hadits tersebut tidak memiliki dasar atau tidak berasal dari Rasulullah saw namun secara makna tidaklah salah jika kita tempatkan pada berbagai permasalahan fiqih.


Wallahu A’lam





Jumat, 17 Oktober 2014

KARENA TAK TAHU, AKHIRNYA BERLAKU, MAKA KETAHUILAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Assalamualaikum para ikhwan dan akhwat yang dirahmati allah SWT.



Saya Ingin coba share apa yang saya fikirkan saat ini,

kenapa saat ini?? karena sebelumnya saya pernah berada di salah satu lingkaran ini yang di murka oleh Allah SWT.Astaghfirullahala'dziim.

logikanya sederhana, Ketika kita berharap dan bermimpi kelak jika kita berkeluarga, kita tentunnya menginginkan sebuah keluarga yang barokah, tentram, penuh cinta dan kasih sayang atau yang sering kita sebut dlm bahasa arab(sakinah, mawadah, warohmah) yang tersirat dlm QS Ar-Rum:21.

begitu bukan?? Nah tahukah kita apa KESALAHAN pertama yang kita lakukan yang tentunya sangat bertolak belakang dengan harapan kita di atas,? sebelum saya jawab saya akan berikan sebuah kalimat logika sederhana, "kita bedo'a seperti yg kita harapkan di atas sama Allah SWT, tetapi kita mengawalinya dengan melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT" coba di fikir ulang!

apa sih itu? yaitu" PACARAN" atau yang bisa kita sinonimkan dengan kata "KHOLWAT", wah so tw lho,, kata siapa pacaran dilarang?

ok ok , agar saya gk di bilang omong kosong, sudah sepatutnya sebagai insan islami yang menjadikan Al-Quran dan Assunah(hadits) sebagai dasar hukum tertinggi kita jadikan sebagai acuan:

*Al-quran

ini adalah salah satu dari sekian banyak ayat alquran yang merujuk kepada larangan PACARAN, Allah SWT berfirman:

Surat Al-Israa’ Ayat 32

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Israa’: 32)

*hadits

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa ada mahram wanita itu karena setan menjadi yang ketiga di antara mereka berdua.“ ( HR Ahmad ).

Cukup jelas bukan? dan masih banyak lagi jika anda kurang yakin.

Akhirnya ada sebuah percakapan yang muncul seperti ini:

A:saya kan pacaran gk ngapa2in..

B: klo gk ngapa2in ngapain pacaran coba (copas ust.felix,he) nikmatnya gk dapet dosanya bertambah terus.

A: saya kan pacarannya pacaran yang sehat..

B: sejak kapan pacaran jadi cabang olahraga,, hehe

A: saya kan pacarannya karena ALLAH SWT..

B: Astghfrllah ,, masa maksiat karena Allah, jangan ngarang dehh!!

A: saya kan gara2 pacaran jadi rajin sholat dan ibadah yg lainnya lho..




B: nah ini lebih bahaya ni,, jadi anda solat karena siapa ni?? pacar? hati2 terjerumus musyrik tuh..
wassalam
Annasihin





A: saya kan,,, saya kan,, saya kan,,

B: alaaah udah apapun alasannya, hukumnya gak boleh,,

A: nih penulis kaya yang gk pernah pacaran jja ni, so ngelarang2??

B: justru saya pernah dan ingin berubah jadi muslim yang baik dan sekaligus mengajak orang lain, bukankah itu jg kewajiban.

A: yudh perbaiki diri jja dlu gk usah ngajak2 org lain..

B: justru karena ingin memperbaiki diri, makanya saya peduli sesama muslim.

A: terus ngapain juga pake di tulis di share..

B: justru ini sebagai alat pengingat saya pribadi, dan ketika anda melihat saya menyalahi sesuai apa yg saya tulis tegurlah saya secara langsung insya allah saya akan menerima dengan senang hati.

cukup dulu akh, cape juga ngobrol sendirian, hehe

"jangan melihat siapa yg menulis, tapi lihat apa yg ditulis"

semoga bermanfaat

Kamis, 16 Oktober 2014

Hukum Mengambil Upah Membaca Al Quran Untuk Orang Mati

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Fatwa Ulama: Hukum Mengambil Upah Membaca Al Quran Untuk Orang Mati





Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz


Soal:


Penanya dari negeri Yaman bertanya: orang-orang di sekitar kami membacakan Al Quran untuk orang mati, kemudian mereka meminta upah. Apakah hal ini bermanfaat bagi orang mati? Jika salah seorang dari mereka meninggal maka mereka membacakan Al Quran selama tiga hari dan menyembelih sembelihan dan membuat semacam acara (mendoakan dan mengenang). Apakah ini merupakan ajaran Islam?


Jawab:


Membacakan Al Quran untuk orang mati adalah bid’ah dan mengambil upah untuk membacakannya tidak diperbolehkan. Karena tidak ada dalam syariat yang suci ini dalil yang menunjukkan hal tersebut. Ibadah adalah taufiqiyyah (butuh dalil), tidak boleh kecuali apa-apa yang telah disyariatkann oleh Allah sebagaimana Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,


من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد


‘Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama kami yang bukan merupakan bagian darinya, maka tertolak


Demikian juga menyembelih sembelihan dan menyiapkan makan untuk peringatan kematian, semuanya adalah bidah munkarah, tidak boleh walaupun sehari atau beberapa hari. Karena ada dalilnya dalam syariat yang suci dan ia merupakan amal jahiliyah. Sebagaimana hadits dari Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam,


أربع في أمتي من أمر الجاهلية لا يتركونهن الفخر بالأحساب والطعن في الأنساب والاستسقاء بالنجوم والنياحة


“Ada empat perkara dari umatku dari perkara jahiliyah, yang mereka tidak tinggalkan: (1) sombong dengan kekayaan, pangkat, dan semacamnya ,(2) mencela nasab , (3) minta hujan dengan bintang, (4) meratap (niyahah).” (H.R. Muslim)


Dan sabda beliau:


>النائحة إذا لم تتب قبل موتها تقام يوم القيامة وعليها سربال من قطران ودرع من جرب


“Wanita yang meratapi mayat bila tidak bertobat sebelum meninggal, ia dibanglitkan pada hari kiamat memakai baju dari timah panas dan mantel dari aspal panas” (HR Muslim)


Dari Jabir bin Abdillah Al-Bajali radhiallahu ‘anhu berkata,


كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعة الطعام بعد الدفن من النياحة


“Kami menganggap berkumpul-kumpul di rumah duka dan membuat makanan setelah penguburan adalah termasuk Nihayah (meratap).“(HR. Ahmad dengan sanad hasan)


dan Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Ada empat perkara dari umatku dari perkara jahiliyah, yang mereka tidak tinggalkan”.


Dan ini bukanlah amal perbuatan yang pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula para sahabat radhiallahu ‘anhum, yaitu jika seseorang mati, mereka membacakan Al-Quran, menyembelih sembelihan dan membuat makanan. Ini semuanya adalah bid’ah, wajib menjauhinya dan memperingatkan manusia darinya.


Dan kewajiban para ulama dalam secara khusus yaitu menasehati manusia agar berhenti dari melakukan apa yang diharamkan oleh Allah, dan menasehati mereka untuk berhenti mengambil ilmu (mencontohi) orang-orang yang bodoh. Juga (membimbing mereka) sampai mereka lurus di atas jalan yang telah Allah syariatkan kepada hamba-Nya. Dengan demikian, maka keadaan masyarakat akan menjadi baik, nampaklah hukum Islam perkara jahiliyah menjadi tidak tampak.

Selasa, 14 Oktober 2014

Memahami arti syirik

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Memahami Makna Syirik




Saat membaca judul di atas, mungkin terbersit di dalam benak kita sebuah pertanyaan, “mengapa kita harus memahami syirik? Bukankah syirik adalah dosa yang terbesar?” Jika memang demikian, maka simaklah perkataan Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu ini,


كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي


“Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan, sedangkan aku justru bertanya kepada beliau tentang keburukan disebabkan rasa takut keburukan itu akan menimpaku.”[1]


Sebagaimana seorang muslim dituntut untuk mengetahui berbagai macam kebaikan agar dapat mengamalkannya, begitu pula selayaknya bagi dia untuk mengetahui pelbagai macam keburukan agar mampu menghindarinya. Jika dicermati sejenak, betapa banyak kitab-kitab ulama terdahulu yang mengupas masalah dosa-dosa besar. Hal itu bertujuan untuk memperingatkan umat agar tidak terjerumus ke dalamnya.


Terlebih lagi perkara syirik, yang merupakan kezaliman terbesar, yang mampu menyeret manusia menjadi bahan bakar api neraka selama-lamanya. Sudah sepantasnyalah kita memahami hakikat kesyirikan itu sendiri. Karena siapa yang tidak mengetahuinya, dikhawatirkan akan terperosok di dalamnya tanpa disadarinya.


Sebagaimana yang dikatakan oleh penyair Arab, Abu Faras al-Hamdani,


عَرَفْتُ الشَّرَّ لَا لِلشَّر … رِ لَكِنْ لِتَوَقِّيهِ


وَمَنْ لَا يَعْرِفِ الشَّرَّ … مِنَ النَّاسِ يَقَعْ فيهِ!


“Aku mengetahui keburukan bukan untuk berbuat keburukan…


Akan tetapi agar mampu terhindar darinya…


Karena barang siapa dari manusia yang tidak mengetahui keburukan..


Suatu saat akan terjerumus ke dalamnya!”[2]
Makna Syirik


Secara etimologi, syirik berarti persekutuan yang terdiri dari dua atau lebih yang disebut sekutu. Sedangkan secara terminologi, syirik berarti menjadikan bagi Allah tandingan atau sekutu. Definisi ini bermuara dari hadis Nabi tentang dosa terbesar,


أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهْوَ خَلَقَكَ


“…Engkau menjadikan sekutu bagi Allah sedangkan Dia yang menciptakanmu.”[3]


Sebagian ulama membagi makna syirik menjadi makna umum dan makna khusus. Bermakna umum, jika menyekutukan Allah di dalam peribadahan hamba kepada-Nya (uluhiyyah), menyekutukan-Nya di dalam perbuatan-Nya (rububiyyah), nama-Nya, dan sifat-Nya (al-asma’ wa ash-shifat).


Akan tetapi, jika disebutkan secara mutlak, syirik berarti memalingkan suatu ibadah kepada selain Allah. Dan inilah makna syirik secara khusus. Sebagaimana tauhid bermakna mengesakan Allah -dalam ibadah- jika disebut secara mutlak. Karena kesyirikan jenis inilah yang diperangi oleh Rasulullah semasa hidup beliau. Bahkan, kesyirikan pertama yang terjadi di muka bumi ini disebabkan oleh penyelewengan dalam beribadah kepada selain Allah yang telah menimpa kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam.


Diriwayatkan bahwa di zaman Nabi Nuh terdapat beberapa orang saleh. Ketika mereka wafat, setan membisikkan kepada manusia-manusia setelah mereka untuk mendirikan patung orang-orang saleh tersebut dan menamakannya dengan nama-nama mereka. Hal itu bertujuan untuk membuat mereka semangat dalam beribadah tatkala melihat patung tersebut.


Kala itu tiada seorang pun yang menyembah patung itu. Akan tetapi, ketika generasi pembuat patung wafat dan manusia berada di dalam kungkungan kebodohan, maka generasi setelahnya menjadikan patung-patung tersebut sebagai sesembahan. Mereka telah menduakan Allah dan itulah sebesar-besar dosa.
Fenomena Syirik
Syirik di dalam ibadah (uluhiyyah)


Syirik di dalam uluhiyyah Allah bermakna menyekutukan Allah di dalam ibadah. Atau dengan arti lain menyelewengkan ibadah kepada selain Allah. Ini adalah definisi syirik ketika penyebutannya bersifat mutlak. Karena kesyirikan ini yang paling menjamur, dan parahnya, tidak banyak orang yang menyadari akan hal itu. Betapa banyak manusia menduakan Allah di dalam penghambaan dirinya tanpa mereka sadari.


Termasuk ibadah di antaranya adalah salat, zakat, puasa, sembelihan, sumpah, doa, istigasah, cinta, takut, harap, dan segala bentuk peribadahan seorang hamba kepada Allah. Oleh sebab itu, termasuk bentuk kesyirikan ketika seseorang menyembelih kurban untuk jin semisal sesajen, berdoa meminta pertolongan kepada orang mati, atau penyelewangan ibadah lainnya kepada selain Allah.


Allah Ta’ala berfirman,


وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا


“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu ialah milik Allah. Maka janganlah kalian menyembah sesuatu pun di dalamnya selain Allah.” (QS. Al-Jinn: 18)
Syirik di dalam perbuatan Allah (rububiyyah)


Syirik di dalam rububiyyah Allah berarti meyakini adanya selain Allah yang melakukan perbuatan-perbuatan Allah. Atau menyamakan makhluk dengan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan rububiyyah-Nya. Misalnya, memercayai adanya sang pencipta selain Allah, pemberi rezeki, penurun hujan, dan pengatur alam semesta.


Syirik jenis ini umumnya sedikit. Karena kaum kafir Quraisy yang diperangi oleh Rasulullah pun meyakini tauhid jenis ini. Allah Ta’ala berfirman,


قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ


“Katakanlah wahai Muhammad, ‘Siapakah yang memberi kalian rezeki dari langit dan bumi? Siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan? Siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Maka katakan, ‘Lantas mengapa kalian tidak bertakwa?” (QS. Yunus: 31)
Syirik di dalam nama dan sifat-Nya (asma’ wa shifat)


Syirik di dalam al-asma’ wa ash-shifat bermakna menjadikan sekutu bagi Allah, baik itu di dalam salah satu nama-Nya, atau salah satu sifat-Nya.


Allah Ta’ala berfirman,


لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ


“Tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS. Asy-syura: 11)
Salah Kaprah tentang Syirik


Sebagian orang ada yang menyempitkan definisi syirik. Mereka mengatakan syirik adalah mengesakan Allah dalam perbuatan yang menjadi kekhususan bagi-Nya saja, atau dalam arti lain sifat rububiyah Allah semata. Misalkan keyakinan adanya pencipta, pemberi rezeki, pengatur alam semesta selain Allah. Sampai di sini, benar. Mereka yang menjadikan tandingan bagi Allah dalam perbuatan yang merupakan kekhususan bagi-Nya, maka itu termasuk syirik besar yang dapat menyebabkan seorang keluar dari koridor Islam.


Akan tetapi, tatkala mereka mengatakan bahwa orang yang telah meyakini ke-rububiyah-an Allah bukanlah orang yang musyrik, maka ini adalah kesalahan yang besar. Karena ternyata Al-Quran mengisahkan tentang kaum kafir yang juga mengakui bahwa Allah-lah pencipta mereka,


وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ


“Dan jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ Maka mereka pasti menjawab, ‘Allah.’ Lantas bagaimana mereka dapat dipalingkan?” (QS. Az-Zukhruf: 87)


Sebagian lagi berpendapat bahwa syirik itu berarti tidak mengucapkan kalimat syahadat. Jadi, jika seseorang telah mengucapkan kalimat syahadat, maka ia terlepas dari perbuatan syirik. Maka ini merupakan kekeliruan yang nyata. Karena kaum munafik di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan kalimat syahadat, akan tetapi Allah menggambarkan kondisi mereka kelak,


إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا


“Sungguh, orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan terbawah dari neraka. Dan engkau tidak mendapati seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisa’: 145)


Sebagian lagi mengatakan bahwa jika seseorang telah menyembah Allah, telah beribadah kepada Allah, maka ia telah terlepas dari syirik. Maka ini pun kesalahan yang jelas. Toh, kaum kafir Quraisy dahulu juga menyembah Allah. Namun di samping itu, mereka juga menyembah berhala. Ketika mereka ditimpa kesulitan, mereka mengikhlaskan ibadah mereka hanya untuk Allah. Allah Ta’ala menceritakan ihwal kaum kafir saat dikungkung mara bahaya,


هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ فَلَمَّا أَنْجَاهُمْ إِذَا هُمْ يَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَق


“Dialah yang menjadikan kalian mampu berjalan di darat dan berlayar di lautan. Sehingga apabila kalian berada di atas kapal, dan melajulah kapal itu membawa mereka dengan tiupan angin yang tenang dan mereka bergembira karenanya, tiba-tiba badai datang disertai gelombang yang menghantam dari segala penjuru. Mereka pun mengira bahwa bahaya telah mengungkung mereka. Maka mereka lantas berdoa kepada Allah dengan tulus ikhlas, ‘Sekiranya Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, niscaya kami termasuk orang-orang yang bersyukur.’ Akan tetapi ketika Allah telah menyelamatkan mereka, mereka justru berbuat kezaliman di muka bumi tanpa alasan yang benar.”(QS. Yunus: 22-23)


Akhir kata, semoga artikel ini memperluas cakrawala pemikiran kita tentang makna syirik yang sebenarnya. Sehingga kita bisa lebih waspada agar tidak terjerumus ke dalamnya.


_________


[1] HR. Bukhari: 3060, dan Muslim: 1847


[2] Jami’ Dawawin asy-Syi’r al-‘Arabi ‘ala Marr al-‘Ushur, 16/41. Maktabah Syamilah.


[3] HR. Bukhari: 7520, dan Muslim: 86
Daftar Pustaka


Sholih bin Fauzan Al-Fauzan. 1417. Al-Irsyad ash-Shahih al-I’tiqad wa ar-Radd ‘ala Ahli asy-Syirk wa al-Ilhad (Cetakan ke-2). Riyadh – Arab Saudi: Dar Ibn Khuzaimah.


Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.1430. Syarh Kasyf asy-Syubuhat (Cetakan ke-1). Kairo – Mesir: Dar Ibn Hazm.


Ushul al-Iman fi Dhau’ al-Kitab wa as-Sunah. Maktabah Syamilah.


Penulis: Roni Nuryusmansyah


Muraja’ah: Ust. Muhsan Syarafuddin, Lc, M.HI


Artikel Muslim.Or.Id